Monday, 28 May 2018

Membudidayakan Bawang Merah Yang Baik Menurut Balai Penelitian Sayur Indonesia

Membudidayakan Bawang Merah Yang Baik Menurut Balai Penelitian Sayur Indonesia

Petani bawang pada umumnya menggunakan umbi bibit untuk bahan tanaman, padahal biaya termasuk tinggi dimana sekitar 40 % dari total biaya produksi, maka dari itu salahs atu solusi yang bisa diambil adalah dengan menggunakan TSS (True Shallot Seed). 

Kelebihan penggunaan TSS ini dibanding dengan menggunakan umbi bibit (1,5 ton/ha), bebas pathogen penyakit mneghasilkan tanaman yang lebih sehat dan umbi yang lebih besar, dan daya hasilnya lebih tinggi, penggunaan TSS layak secara ekonomis karena dapat meningkatkan hasil dua kali lipat dibandingkan penggunaan umbi bibit konvensional. 

Jadi menurut Balai penelitian sayur bawang merah itu sebaiknya dibudidyakan dengan menggunakan TSS, bagaimana cara melakukan budidaya bawang merah dengan TSS ini? Simak panduannya dibawah ini. 

Cara budidaya bawang merah dengan TSS 

Persemaian 

a. Buat bedengan dengan lebar 1 m, tinggi 40-50 cm, panjangnya sesuaikan dengan kebutuhan, jarak antar bedengan 50 cm, bedengan sebaiknya diberi naungan dengan plastic transparan untuk melindungi bibit muda dari curah hujan dan terik matahari. 

b. Campur tanah bedengan dengan pupuk kandang matang 2 kg, dolomite 150 g, SP-36 100 g, dan KCL 50 g. 

c. Taburi bedengan dengan arang sekam padi setebal 5 cm dan karbofuran 5 g, aduk merata dengan tanah permukaan bedengan. 

d. Ratakan permukaan bedengan, lalu buat alur dengan jarak 5 – 10 cm dengan kedalaman 1 cm. 

e. Taburkan biji TSS kedalam alur sebanyak 150 – 200 biji/alur, kemudian tutup dengan tanah halus atau media yang dihaluskan, kemudian tutup dengan plastic tebal warna biru atau hitam, kecambah akan muncul 5-10 hari setelah semai, lalu tutu buka. 

f. Penyiraman bibit dilakukan setap hari pagi atau petang hari. 

g. Pemupukan NPK (15-15-15) diberikan 5 kali dengan cara dicor dengan konsentrasi 2 g/l pada umur 1 minggu setelah semai, kemudian diulang seminggu sekali. 

h. Pengendalian gulma dilakukan secara manual, disiangi dengan tangan. 

i. Untuk mengendalikan hama pada persemaian seperti orong-orong, semut, dan cacing dapat dilakukan dengan pemberian umpan campuran bekatul 1 kg dan dursban 50 ml. 

j. Untuk mengendalikan hama ulat bawang yang menyerang, setelah bibit berumur satu bulan dapat digunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, piretroid, atau profenofos, penyemprotan insektisida dilakukan pada sore hari menggunakan spayer. 

Membudidayakan Bawang Merah Yang Baik Menurut Balai Penelitian Sayur Indonesia

k. Setelah bibit berumur 5-6 minggu, bibit siap dipindah ke lapangan, bibit yang digunakan sebagai bahan tanaman adalah bibit yang sehat dan sudah memiliki 2-4 helai daun. 

Pengolahan tanah 

a. Pengolahan tanah dilakukan 2-4 minggu sebelum penanaman dengan kedalaman olah 25 cm 

b. Buat bedengan dengan ukuran lebar 120 cm, tinggi 40-50 cm, dan panjang sesuai dengan keadaan lahan. 

c. Jika pH kurang dari 5,5 tambahkan kapur dengan dosis 2,5 ton/ha 

d. Berikan pupuk dasar berupa pupuk kandang matang (10 ton/ha), dan pupuk P 125 kg/ha, 2 hari sebelum pindah tanam. 

e. Pupuk disebar merata di atas permukaan bedengan dan dicampur secara merata diatas dengan tanah permukaan bedengan. 

f. Ratakan dan haluskan tanah permukaan bedengan dan buat lubang tanam berjarak 10 cm x 10 cm 

Penanaman 

Membudidayakan Bawang Merah Yang Baik Menurut Balai Penelitian Sayur Indonesia

a. Sebelum penanaman dilakukan penyiraman bedengan terlebih dahulu untuk memberikan kelembapan tanah. 

b. Tanam bibit yang telah berumur 5-6 minggu, 1 bibit/lubang, tekan tanah disekitar pangkal tanaman dengan lembut supaya akarnya menyatu dengan tanah. 

Pemeliharaan tanaman 

a. Pada awal pertumbuhan sampai umur 3 minggu penyiraman dilakukan secara rutin [agi dan sore, terutama setelah hujan. 

b. Pemupukan susulan berupa pupuk N dan pupuk K dengan dosis 120 – 180 kg N/ha dan 60 kg K2O/ha, diberikan 3 kali yaitu pada umur 2, 4, dan 6 minggu setelah tanam, masing-masing 1/3 dosis 

c. Pengendalian hama dan penyakit 

Hama yang menyerang antara lain ialah ulat grayak, trips dan lalat penggorok daun dan pengendaliannya menggunakan insektisida yang selektif dan efektif. Penyakit yang umum menyerang antara lain ialah penyakit otomaris (antraknosa), trotol (Alternaria porri)dan mebun tepung , pengendaliannya menggunakan fungisida yang selektif 

Panen dan pascapanen 

a. Bawang TSS dapat dipanen setelah 75 % dari daun telah rebah dan umbi tersembul kepermukaan tanah, yaitu pada saat tanaman berumur 70-80 hari, tergantung pada varietas yang ditanam. 

b. Tanaman dicabut secara hati-hati, dibersihkan, diikat, kemudian dijemur dibawah terik matahari langsung selama 7 hari, setelah itu disimpan diatas para-para. 

Sumber : Balitsa Kementrian pertanian Indonesia
Membudidayakan Bawang Merah Yang Baik Menurut Balai Penelitian Sayur Indonesia
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan Artikel di atas? Silakan berlangganan artikel terbaru langsung via email.

Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Kepada pembaca setia kami yang meninggalkan komentar dengan mencantumkan link aktif, tanpa mengurangi rasa hormat komentar anda akan kami delete.

Untuk menambahkan komentar anda harus menjadi anggota blog ini, isi formulir pendaftaran dibawah ini .
Daftar menjadi anggota

Jika ingin menambahkan komentar tapi tidak mau menjadi member blog, silahkan komentar menggunakan kolom komentar facebook.

Terima kasih atas atensi dan kesopanan anda.

Note: only a member of this blog may post a comment.

Member